Searching...
Sabtu, 19 Januari 2013
Sabtu, Januari 19, 2013

Saatnya Meraih Kemenangan

dakwatuna.com - Kembali kita buka lembaran-lembaran sirah, akan kita dapati, para sahabat-sahabat yang menjadi pahlawan, yang mendapatkan syahadah. Lalu apa yang menjadikan mereka seperti itu? Jawabnya adalah, karena mereka kokoh, kuat dari sisi jasmani maupun ruhani. Segala perintah yang dianjurkan oleh Rasulullah saw mereka jalani. Mereka tak pernah mengeluh karena beratnya tugas yang dipikul, mereka tidak pernah membantah terhadap pilihan-pilihan dakwah yang diberikan, mereka juga tidak pernah mundur dalam medan perjuangan. Mereka adalah prajurit sejati. Lalu pertanyaannya, bagaimana dengan kita?
Melihat kondisi saat ini, menjadi kebutuhan kita semua dalam memulai pertarungan yang baru, pertarungan yang akan menghantarkan kita pada sebuah kemenangan ataukah kekalahan? Hal ini menjadi penting melihat kondisi medan dakwah yang semakin luar biasa kita hadapi. Ini menyangkut dakwah kita yang sudah memasuki wilayah negara. Tentu saja seorang kader dakwah memahami akan hal ini. Ketaatan akan semua aturan yang digariskan oleh jamaah menjadi mutlak untuk dijalankan.
Saat ini kita semua paham, dakwah telah memasuki fase yang lebih luas. Tentunya, untuk menjawab seluruh tugas dan tantangan yang diemban. Maka kita semua pun menyadari, membutuhkan SDM yang luar biasa “kader-kader tangguh”, baik secara jasmani maupun ruhiyah. Karena kader merupakan sebuah ujung tombak akan kesuksesan dakwah itu sendiri. Maka di sini kesadaran seorang kader dakwah menjadi point penting dalam mencapai kemenangan dakwah. Seorang kader dakwah harus menyadari akan kewajiban yang muncul dari dirinya, yaitu dia harus berdakwah. Ketika seorang kader dakwah menyadari, bahwa perjalanan hidupnya adalah untuk dakwah. Bekerja untuk dakwah, mengajar untuk dakwah, berteman untuk dakwah, berkeluarga untuk dakwah dan bermacam bentuk aktivitas lainnya semata-mata untuk dakwah, Lillahi Taala.
Untuk mencapai kemenangan, kekokohan kader dakwah menjadi hal yang harus dipahami oleh setiap kader. Kita dapat melihat gambaran kader yang kokoh seperti yang telah disampaikan oleh Imam As-Syahid Hasan al Banna, yaitu mencakup: Pertama, Salimul Aqidah, kader dakwah dituntut untuk memiliki kelurusan aqidah melalui tuntunan Al-Qur’an dan Sunah. Kedua, Shahihul ’ibadah, kader dakwah dituntut untuk beribadah sesuai petunjuk yang disyariatkan kepada Rasulullah Saw. Ketiga, Matinul Khuluq, kader dakwah dituntut memiliki ketangguhan akhlaq, sehingga mampu mengendalikan hawa nafsu dan syahwat. Keempat, Qadirin ‘alal kasbi, kader dakwah dituntut untuk menunjukkan kreativitas dan potensinya dalam dunia kerja. Kelima, Mutsaqqaful fikri, kader dakwah dituntut untuk memiliki wawasan yang luas. Keenam, Qawiyyul Jismi, kader dakwah dituntut untuk memiliki kekuatan atau kesehatan jasmani. Ketujuh, Mujahidun lin nafsi, kader dakwah dituntut untuk memerangi hawa nafsunya. Kedelapan, Munadzam fi syu’unihi, kader dakwah dituntut untuk mengatur seluruh urusannya sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan oleh Islam. Kesembilan, Haritsun ‘alal waktihi, kader dakwah dituntut untuk mampu memelihara waktunya. Kesepuluh, Nafi’un lighairihi, kader dakwah dituntut untuk bermanfaat bagi yang lain.
Jika kader dakwah telah memiliki kesepuluh sifat ini, maka kader dakwah telah memiliki kekuatan dan kekokohan jasmaninya maupun ruhiyahnya. Sehingga beban dakwah yang di embannya mampu ia jalankan sesuai amanah yang diberikan. Maka akan nampak sebuah perubahan besar ke depan tentang cita-cita kemenangan dakwah. Oleh karenanya seorang kader dakwah harus selalu mentarbiyah dirinya. Terutama tarbiyah ruhiyah. Melalui inilah dalam Al-Quran dijelaskan, kemenangan demi kemenangan didapat melalui kekuatan ruhiyah. Kekuatan ruhiyah inilah yang akan membawa kekuatan jasmaniyah. Kita dapat melihat suksesnya khalifah Umar bin Khathab dalam memerintah, itu semua karena kekuatan ruhiyah yang ada pada diri beliau begitu kuat. Kemudian khalifah bin Abdul Aziz, itupun karena kekuatan ruhiyahnya. Itulah gambarannya. Saat ini kita akan dan sedang menghadapi pertarungan dalam kancah siyasi. Maka sudah seharusnya seluruh kader memperkuat tarbiyah ruhiyahnya. Ini untuk menghantarkan kita semua pada kemenangan dakwah yang kita harapkan.
Kemenangan yang harus dipahami oleh seorang kader dakwah adalah kemenangan yang datangnya dari Allah Swt “Waman nasru illa min ‘indillah”.
 Begitu pun kemenangan tertinggi dalam Islam yang telah dijelaskan dalam Al-Quran yakni pembebasan dari api neraka.
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, Maka sungguh ia Telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (Al-Imran:185)
Siapkah Antum/na semua menyambut kemenangan?
Saatnya kita SIAP untuk menyambut kemenangan. Laksanakan mulai detik ini untuk mencapai kemenangan yang kita harapkan dengan melakukan ibadah wajib, ibadah sunah qiyamullail “shalat malam”, doa-doa, tidak menyakiti orang lain dan orang tua, perbanyak sedekah, perbanyak silaturahim, dll. Insya Allah kemenangan itu benar-benar akan menjadi kenyataan. Aamiin…
Kemenangan yang datang langsung dari Allah Taala.
Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Muhammad:7)
Allahualam bisshawwab…

Review Apel Siaga Kemenangan, yang diselenggarakan oleh DPD PKS Kota Bogor yang lalu.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Back to top!